BANGKRUT DI AKHIRAT AKIBAT KEZALIMAN LISAN DAN PERBUATAN TERHADAP SESAMA
![]()
Timsus.Newsz.id, JAKARTA, 19 September 2026 — Seseorang dapat terlihat memiliki banyak amal ibadah di dunia, tetapi menghadapi kerugian besar di akhirat apabila selama hidupnya melakukan kezaliman terhadap sesama manusia.
Dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW mengingatkan tentang orang yang disebut sebagai “orang yang bangkrut” di akhirat. Ia datang dengan membawa amal ibadah, seperti salat, puasa, dan zakat, tetapi juga membawa berbagai kezaliman terhadap orang lain, seperti mencaci, menuduh, menyakiti, atau mengambil hak sesama.
Pandangan dunia dan akhirat memiliki gambaran yang berbeda tentang kebangkrutan.
Di dunia, bangkrut umumnya berarti kehilangan harta dan kekayaan. Namun, di akhirat, seseorang dapat mengalami kebangkrutan karena pahala amalnya habis akibat kezaliman yang pernah dilakukannya terhadap orang lain.
Rasulullah SAW menjelaskan bahwa pahala kebaikan orang tersebut diberikan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya. Apabila pahala itu telah habis, dosa orang yang dizalimi kemudian dibebankan kepadanya. Inilah gambaran beratnya pertanggungjawaban atas hak sesama manusia.
## Bahaya Meremehkan Hak Sesama
Kezaliman terhadap sesama manusia tidak hanya berkaitan dengan harta, tetapi juga dapat berupa ucapan, tuduhan, penghinaan, fitnah, menyakiti perasaan, maupun tindakan yang merugikan orang lain.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu tidak akan beruntung.”
(QS. Al-An’am: 21)
Allah SWT juga mengingatkan:
“Ingatlah, laknat Allah atas orang-orang yang zalim.”
(QS. Hud: 18)
## Setiap Ucapan Akan Dipertanggungjawabkan
Al-Qur’an juga mengingatkan manusia agar berhati-hati dalam berbicara dan bertindak. Setiap perkataan yang diucapkan tidak luput dari pencatatan.
Allah SWT berfirman:
“Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap mencatat.”
(QS. Qaf: 18)
Karena itu, sebelum lisan berbicara, sebelum jari-jari menulis, dan sebelum kaki melangkah, hendaknya setiap orang menahan diri dari perbuatan yang dapat menzalimi atau merugikan sesama.
Setiap ucapan, tulisan, sikap, dan perbuatan memiliki konsekuensi. Terlebih apabila menyangkut hak orang lain yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.
Jangan sampai amal ibadah yang telah dikumpulkan dengan susah payah justru menjadi sebab berkurangnya pahala karena kita tidak menjaga lisan, perbuatan, dan hak sesama manusia.
Tim Hukum dan Investigasi
LBH Pers
Ikhsan B.