Pernyataan Sikap Sekjen Laskar Ampera ARH Angkatan 66 Terkait Peringatan G30S/PKI 30 September
![]()
Timsus.Newsz.id, Jakarta, 30 September 2026 Keluarga Besar Laskar Ampera Arief Rachman Hakim (ARH) Angkatan 66 menyampaikan pernyataan sikap dalam rangka peristiwa Gerakan 30 September PKI (G30S/PKI) yang jatuh pada hari ini.
Pernyataan sikap tersebut disampaikan langsung oleh Sekretaris Jenderal Laskar Ampera Arief Rachman Hakim Angkatan 66, Bapak Binsar Efendi Hutabarat.
Dalam keterangannya kepada awak media (30/9/2026), Binsar menegaskan bahwa peristiwa G30S/PKI adalah sejarah kelam bangsa yang tidak boleh dilupakan oleh generasi muda.

Hari ini 30 September, kita kembali diingatkan pada pengkhianatan PKI terhadap Pancasila dan keutuhan NKRI. Laskar Ampera ARH Angkatan 66 yang di tahun 1966 berdiri di garda terdepan membubarkan PKI, mengingatkan kembali bahwa ideologi komunisme sudah final dilarang di Indonesia, tegas Binsar Efendi Hutabarat.
Adapun poin-poin pernyataan sikap Sekjen Laskar Ampera ARH Angkatan 66 adalah sebagai berikut:
1. Menolak Lupa Sejarah. Mengajak seluruh rakyat Indonesia, khususnya generasi muda, untuk terus mempelajari sejarah kekejaman G30S/PKI dan menghormati jasa para Pahlawan Revolusi.yang telah gugur akibat kekejaman G 30 S PKI
2. Waspada Terhadap Neo-Komunisme. Laskar Ampera ARH Angkatan 66 meminta pemerintah dan seluruh elemen masyarakat waspada terhadap segala bentuk penyebaran paham yang bertentangan dengan Pancasila dengan PKI gaya baru.
3. Jaga Persatuan dan Kesatuan NKRI. Momentum G30S/PKI harus menjadi perekat persatuan bangsa, bukan untuk memecah belah. Laskar Ampera mendukung penuh program pemerintah dalam menjaga stabilitas nasional dan ketahanan pangan.
4. Kaderisasi Laskar Ampera. Sesuai arahan Ketua Umum Datuk Abdul Muis, Laskar Ampera ARH 66 akan terus melakukan regenerasi dengan melibatkan generasi muda untuk melanjutkan semangat perjuangan Angkatan 66.
Kebanggaan kami, Presiden Prabowo Subianto adalah bagian dari keluarga besar Laskar Ampera ARH Angkatan 66. Kami akan terus mengawal NKRI dan Pancasila sampai titik darah penghabisan, pungkas Binsar.
pada malam Jumat tanggal 30 September 1965 oleh orang-orang PKI di Lubang Buaya para jendral di siksa lalu dibunuh
Menurut Binsar, dalam setiap konflik memang selalu ada rakyat kecil yang menjadi korban karena ketidaktahuan, dan itu tidak bisa dihindari sebagai pelengkap penderita. Namun ia menegaskan, yang berseteru di atas adalah soal ideologi.
Biar bagaimanapun selalu ada pelengkap penderita. Tapi pemimpin yang berseteru di atas masalah ideologi. Tidak boleh ideologi Pancasila digantikan dengan ideologi komunis, katanya.
Karena ideologi komunis tidak sesuai dengan kehidupan berbangsa kita, Dari lagu Indonesia Raya saja, hiduplah Negeriku. Yang dibunuh jenderal, korban yang di bunuh pki tetapi selalu yang selalu menjadi korban itu rakyat karena ketidaktahuan.anak muda jaman sekarang Lalu berasumsi PKI yang menjadi korban
Di akhir pernyataannya, Binsar menyampaikan harapannya kepada Presiden Prabowo Subianto yang juga bagian dari keluarga besar Laskar Ampera ARH angkatan 66, dan kepada generasi muda agar sejarah tidak terulang kembali ada nya PKI di negri ini
Agar sesuai kehidupan berbangsa dan bertanah air melalui dasar-dasar negara kita. adalah Pancasila dengan Undang-Undang Dasar 45 sudah dituangkan. Dari mulai sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, kedua Perikemanusiaan, ketiga Persatuan, keempat Kerakyatan, kelima Keadilan Sosial, itu sudah ada aturannya. Itu ada hukumnya, jelas
Pancasila adalah dasar negara kita, pedoman kita dalam kehidupan berbangsa dan bertanah air ,dan harus kita hargai dan kita harus taati tingkatkan nilai nasionalisme untuk mencintai negri ini NKRI harga mati.
Tim Hukum LBH Pers, Satgas Komando Laskar Ampera ARH Angkatan 66 Ikhsan.B