BTEK Hadapi Tahun Penuh Tantangan, Pendapatan 2025 Turun Tajam Akibat Krisis Kakao Global
![]()
Timsus.Newsz.id, PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) mengungkapkan bahwa tahun buku 2025 menjadi periode penuh tantangan bagi perseroan akibat tekanan pasar global dan dampak proses restrukturisasi pada entitas anak usaha (18/6/26).
Dalam paparan publik perusahaan, manajemen menjelaskan bahwa BTEK yang didirikan pada tahun 2001 dan awalnya bergerak di bidang bioteknologi pertanian, pembibitan tanaman hutan, serta tanaman obat-obatan, telah melakukan transformasi bisnis sejak 2016 melalui ekspansi ke sektor bahan baku industri kakao.
Pada tahun buku yang berakhir 31 Desember 2025, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp72,02 miliar, turun signifikan dibandingkan Rp635,63 miliar pada tahun sebelumnya.
Penurunan pendapatan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk krisis pasokan kakao global. Produksi kakao dari Ghana mengalami penurunan tajam dalam beberapa musim terakhir. Bersama Pantai Gading, kedua negara tersebut menyuplai sekitar 60 persen kebutuhan kakao dunia. Kondisi ini menyebabkan lonjakan harga kakao global dan mengganggu rantai pasok industri cokelat internasional.
Selain itu, proses Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) yang dialami entitas anak PT Golden Harvest Cocoa Indonesia dan mencapai homologasi pada Februari 2025 turut memengaruhi aktivitas komersial perusahaan sepanjang tahun berjalan. Situasi tersebut berdampak terhadap tingkat kepercayaan sejumlah mitra usaha, pemasok, pelanggan, dan pemangku kepentingan lainnya
Meski demikian, manajemen menyatakan terus melakukan evaluasi dan penyesuaian strategi operasional maupun komersial guna memperbaiki kinerja serta memulihkan kepercayaan pasar.
Dari sisi neraca keuangan, total aset perseroan per 31 Desember 2025 tercatat sebesar Rp3,51 triliun, menurun dibandingkan Rp3,89 triliun pada tahun sebelumnya. Penurunan terutama disebabkan berkurangnya aset lancar dan penyesuaian nilai sejumlah aset non-lancar.
Di sisi lain, aset tetap meningkat dari Rp1,92 triliun menjadi Rp1,97 triliun seiring realisasi belanja modal yang dilakukan perusahaan untuk mendukung operasional jangka panjang.
Sementara itu, total liabilitas perseroan turun menjadi sekitar Rp3,23 triliun dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan tersebut didorong oleh pembayaran pinjaman sesuai jadwal, penyelesaian kewajiban kepada pihak berelasi, serta penurunan liabilitas pajak tangguhan.
Memasuki tahun 2026, manajemen BTEK optimistis terhadap prospek industri kakao yang dinilai memasuki fase pemulihan dan ekspansi. Optimisme tersebut didukung oleh membaiknya pasokan global, meningkatnya permintaan produk bernilai tambah, serta kebijakan pemerintah yang mendorong hilirisasi industri.
Untuk mendukung pertumbuhan berkelanjutan, perseroan akan fokus pada peningkatan produktivitas, optimalisasi kapasitas produksi, penguatan disiplin operasional, perluasan pasar ekspor, serta pengembangan produk kakao premium.
Dari sisi keuangan, perusahaan juga akan memperkuat pengelolaan likuiditas, memperbaiki struktur permodalan, dan menerapkan pengendalian biaya yang lebih efektif dan efisien.
Manajemen berharap berbagai langkah strategis tersebut dapat menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham dan seluruh pemangku kepentingan serta mengembalikan kinerja perusahaan ke jalur pertumbuhan yang lebih sehat.