TAUSIAH: MENJAGA AMANAH, KEADILAN, DAN KELESTARIAN ALAM
![]()
Timsus.Newsz.id, Tangerang Selatan, 8 September 2026 – LBH Pers Prima Presisi Polri, Merah Putih 08 Pers, serta Rumah Besar Relawan Prabowo-Gibran 08 menyampaikan tausiah dan pandangan sebagai berikut:
Jika teguran alam baru sebatas tanda-tanda kecil, jangan sampai kita terlena dan menunggu hingga datang tanda-tanda yang lebih besar, seperti banjir bandang, tsunami, maupun bencana dahsyat lainnya.
Kita perlu mengingat bahwa berbagai bencana harus menjadi momentum untuk melakukan introspeksi. Kerusakan lingkungan akibat pembalakan hutan secara liar, eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan, serta berbagai bentuk penyalahgunaan kewenangan harus menjadi perhatian serius.
Di sisi lain, praktik korupsi yang terjadi dari hulu hingga hilir, termasuk dugaan penyalahgunaan dalam sektor pertambangan seperti nikel, batu bara, timah, emas, serta penyalahgunaan BBM bersubsidi dan peredaran barang-barang ilegal, merupakan persoalan yang harus mendapatkan perhatian dan penegakan hukum.
Fenomena tersebut menjadi catatan hitam apabila benar terjadi dan dilakukan secara terorganisasi, terlebih jika melibatkan oknum pejabat maupun pihak-pihak yang memiliki kewenangan.
Maraknya dugaan korupsi berjamaah di berbagai institusi dan kementerian dapat menimbulkan keresahan masyarakat. Anggaran negara yang bersumber dari APBN dan APBD pada hakikatnya merupakan uang rakyat yang harus dikelola secara transparan, bertanggung jawab, dan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat.
Jangan sampai kepentingan kelompok, oligarki, maupun segelintir pihak justru mengorbankan rakyat kecil yang kehidupannya sudah sulit. Eksploitasi terhadap sumber daya alam juga tidak boleh merongrong sendi-sendi ketahanan bangsa dan negara.
Apakah semua ini merupakan akibat keserakahan, penyalahgunaan kekuasaan, atau pengkhianatan terhadap amanah rakyat?
Pertanyaan tersebut patut menjadi bahan perenungan bersama.
Pemberantasan tindak pidana korupsi, pencucian uang, perdagangan ilegal, narkotika, serta berbagai bentuk kejahatan lainnya harus dilakukan secara tegas dan tanpa pandang bulu.
Pemerintah, aparat penegak hukum, TNI, Polri, Bea Cukai, kejaksaan, pengadilan, serta seluruh institusi terkait harus mampu menjalankan tugasnya secara profesional, berintegritas, dan bebas dari kepentingan pribadi maupun kelompok.
Jangan sampai muncul budaya “asal bapak senang” atau praktik gratifikasi yang pada akhirnya bermuara pada kepentingan uang dan kekuasaan.
“Hepeng na mangatur negara on…?” — apakah uang masih menjadi penentu dalam mengatur negara? Pertanyaan tersebut harus menjadi refleksi bersama agar praktik suap dan korupsi tidak semakin mengakar.
Masyarakat juga harus dilindungi dari berbagai bentuk intimidasi, kekerasan, penculikan, kriminalisasi, maupun tindakan yang bertujuan menakut-nakuti rakyat kecil.
Jangan sampai hukum hanya terasa tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.
Pengusaha hitam yang melakukan praktik KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), bekerja sama dengan oknum yang menyalahgunakan jabatan, serta kelompok yang merampas atau menyerobot hak tanah masyarakat kecil harus ditindak sesuai hukum.
Penegakan hukum harus berdiri tegak dan tidak boleh membedakan seseorang berdasarkan jabatan, kekayaan, maupun kedekatan dengan kekuasaan.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat juga menghadapi berbagai persoalan sosial, terutama generasi muda. Penyalahgunaan narkotika, obat-obatan terlarang, minuman keras oplosan, serta berbagai bentuk kenakalan remaja menjadi persoalan serius yang membutuhkan perhatian keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah.
Indonesia sesungguhnya merupakan negeri yang kaya akan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Kekayaan tersebut seharusnya menjadi modal besar untuk membangun bangsa menuju Indonesia Emas 2045.
Namun, kekayaan alam tidak boleh dieksploitasi secara berlebihan hanya untuk keuntungan pribadi maupun kelompok tertentu.
Kemajuan teknologi juga harus diimbangi dengan pendidikan karakter. Generasi muda jangan sampai hanya menjadi generasi yang konsumtif dan kecanduan gawai, tetapi harus diarahkan menjadi generasi yang produktif, kreatif, berpendidikan, serta memiliki kepedulian terhadap bangsa dan lingkungan.
Di tengah dinamika geopolitik internasional dan berbagai konflik global, Indonesia juga harus mampu menjaga ketahanan nasional, kemandirian ekonomi, serta stabilitas sosial dan politik.
Berbagai peristiwa alam, seperti erupsi gunung berapi, abu vulkanik, banjir, tanah longsor, gempa bumi, tsunami, dan angin puting beliung, hendaknya menjadi pengingat bagi manusia untuk senantiasa menjaga keseimbangan alam.
Dampak bencana, termasuk abu vulkanik yang dapat mengganggu kualitas udara dan kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lansia dan anak-anak, harus diantisipasi dengan baik.
Eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan demi kepentingan pribadi atau kelompok dapat merusak lingkungan dan mengancam kehidupan masyarakat.
Karena itu, kita harus menyadari bahwa kelestarian alam merupakan amanah yang harus dijaga bersama.
Kita seakan gagal menjaga amanah luhur para pejuang dan pendiri bangsa apabila kekayaan negeri ini hanya dinikmati oleh segelintir orang, sementara masyarakat kecil terus menghadapi kesulitan.
Dalam perspektif keagamaan, manusia diingatkan agar tidak melakukan kerusakan di muka bumi.
Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ar-Rum ayat 41, kerusakan di darat dan di laut terjadi akibat ulah tangan manusia, agar manusia menyadari akibat dari perbuatannya dan kembali kepada jalan yang benar.
ULAMA SEBAGAI BENTENG MORAL DAN ETIKA BANGSA
Ulama merupakan salah satu benteng etika, moral, dan kebenaran suatu bangsa.
Ketika ulama kehilangan independensinya karena kepentingan materi maupun kekuasaan, maka fungsi moral dan keilmuannya dapat kehilangan marwah.
Ulama memiliki tugas menyampaikan kebenaran (haq) dengan keberanian, kebijaksanaan, dan keteladanan. Bukan mencari sensasi atau popularitas, melainkan memberikan petunjuk kepada umat berdasarkan ilmu, syariat, keadilan, dan kemaslahatan.
Kebenaran tidak boleh dikorbankan hanya demi kepentingan sesaat.
Bumi, gunung, laut, angin, dan seluruh alam semesta merupakan ciptaan Allah SWT dan berada dalam ketetapan-Nya.
Karena itu, manusia harus menjaga hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam.
Ketika kezaliman, kesombongan, kemaksiatan, serta pengkhianatan terhadap amanah semakin merajalela, hendaknya manusia melakukan introspeksi dan kembali kepada nilai-nilai kebaikan.
Bencana dapat menjadi tazkirah atau pengingat agar manusia kembali menyadari keterbatasannya dan memperbaiki kesalahan.
Hai umat manusia, marilah kita memperbaiki diri sebelum datang penyesalan. Perbanyak introspeksi, berzikir, berdoa, dan bertobat kepada Allah SWT.
TAUBAT NASUHA.
Semoga bangsa Indonesia senantiasa diberikan perlindungan, kedamaian, keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan.
Salam perjuangan.
Patriot Bangsa.
ASTA CITA – GAKORPAN – MILKHA – MERAH PUTIH 08
Menuju Indonesia Emas 2045.
Macan Asia.
Rakyat Merdeka, Berdaulat, Adil, Makmur, dan Sejahtera dalam Lindungan Allah SWT.
Ficky Morenza, SH., ST.
Dr. Bernard, SH.
Tim Investigasi GAKORPAN Merah Putih 08
Tangerang Selatan
TIM HUKUM INVESTIGASI
Ikhsan B.
LBH Pers