Mahasiswa Bentrok dengan Aparat Saat Demo di Jakarta, Bakar Ban dan Suarakan Lima Tuntutan kepada Pemerintah
![]()
Timsus.Newsz.id, Jakarta – Kericuhan sempat terjadi saat pengunjuk rasa yang mengenakan atribut Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) membakar ban dalam aksi unjuk rasa di depan sebuah SPBU kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (12/6/2026) malam.
Pantauan di lokasi menunjukkan sekitar 30 mahasiswa dari GMNI membakar tiga ban sebagai bentuk kekecewaan terhadap berbagai kebijakan pemerintah. Salah satu tuntutan yang mereka suarakan adalah mendesak pemerintah menurunkan harga bahan bakar minyak (BBM).
Aksi pembakaran ban tersebut memicu reaksi aparat kepolisian yang berjaga di lokasi. Petugas sempat berupaya memadamkan api, namun dihalangi oleh sejumlah pengunjuk rasa. Akibatnya, terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dan aparat selama sekitar satu menit.
Setelah situasi mereda, petugas berhasil memadamkan api dari ban yang dibakar. Aksi demonstrasi tersebut juga menyebabkan kepadatan lalu lintas di Jalan Raya Pasar Minggu, baik dari arah Pasar Minggu menuju Pancoran maupun sebaliknya.
Hingga pukul 20.25 WIB, massa GMNI masih bertahan di lokasi untuk melanjutkan aksi. Sementara itu, sejumlah personel Sabhara yang dilengkapi pelontar gas air mata tampak terus berjaga di sekitar lokasi demonstrasi.
Aliansi mahasiswa yang dimotori Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai fakultas Universitas Indonesia (UI), serta massa aksi dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jakarta dan Institut Pertanian Bogor (IPB), turun ke jalan pada Jumat (12/6/2026).
Aksi unjuk rasa yang menyedot perhatian publik ini membawa “rapor merah” bagi jalannya pemerintahan saat ini. Mahasiswa menyoroti berbagai persoalan domestik yang dinilai semakin membebani masyarakat, mulai dari melemahnya nilai tukar rupiah, pembengkakan anggaran negara, kenaikan harga BBM, hingga polemik tata kelola program prioritas pemerintah.
Ketua BEM Fakultas Hukum UI, Anandaku Dimas Rumi Chattaristo, menegaskan bahwa aksi tersebut murni berangkat dari keresahan kolektif masyarakat yang dibangun melalui proses konsolidasi yang matang.
Dimas juga menyatakan bahwa gerakan ini terbuka bagi seluruh elemen masyarakat sipil dan tidak terafiliasi dengan kelompok politik praktis mana pun.
Ketegangan di Jalur Sudirman
Aksi massa juga sempat diwarnai ketegangan dengan aparat penegak hukum. Sejak awal, rombongan bus mahasiswa yang bertolak dari Kampus UI Depok sekitar pukul 10.30 WIB tidak diperkenankan memasuki titik konsentrasi utama yang direncanakan, yakni Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat.
Aparat kepolisian melakukan penyekatan berlapis di kawasan Semanggi dan mengarahkan bus mahasiswa menuju depan Kompleks Parlemen Senayan.
Tak ingin menghentikan aksi, mahasiswa memilih turun dari kendaraan dan melakukan long march hingga akhirnya tertahan di kawasan Dukuh Atas, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan.
Ketua BEM UI, Yatalathof Ma’shum Imawan, membenarkan adanya pengadangan dan pemecahan rute tersebut. Menurutnya, massa sempat tertahan di sekitar Kantor TVRI untuk kembali mengonsolidasikan peserta aksi yang terpisah akibat penyekatan.
Adu argumentasi pun sempat terjadi antara perwakilan mahasiswa dengan Kepala Bagian Perencanaan (Kabag Ren) Polres Metro Jakarta Pusat, AKBP Adri Desas Furyanto.
“Jika kalian memaksakan kehendak, silakan tabrak kami. Kalau menyampaikan aspirasi di titik sini, tidak akan kami halangi,” ujar Adri.
Menanggapi hal itu, seorang orator mahasiswa dari atas mobil komando mengatakan bahwa tuntutan mereka tidak hanya ditujukan kepada DPR.
“Masalahnya, seluruh tuntutan dan aspirasi kami tidak hanya ditujukan ke Gedung DPR. Mengapa tidak bapak-bapak saja yang membuka jalan ke Bundaran HI?” ujarnya.
Adri kemudian menjelaskan bahwa Bundaran HI merupakan pusat aktivitas masyarakat dan perekonomian yang tidak boleh lumpuh akibat demonstrasi.
“Bundaran HI itu jantung jalannya masyarakat, pusat perekonomian, central of gravity-nya Indonesia. Kalau akses di situ ditutup, semua aktivitas publik akan lumpuh,” katanya.
Lima Tuntutan Mahasiswa
Meski diadang aparat hingga menjelang malam, mahasiswa tetap menyuarakan lima tuntutan kepada pemerintah, yakni:
1. Menghentikan pemborosan APBN.
2. Menurunkan harga kebutuhan pokok dan BBM.
3. Menghentikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pembangunan Koperasi Desa Merah Putih.
4. Menghentikan militerisme di ranah sipil.
5. Mendesak Presiden Prabowo Subianto berhenti mengelak dan mengakui kesalahan pemerintah atas berbagai kebijakan yang dinilai bermasalah.
Aksi bertajuk “Aksi Menuju Indonesia Bangkrut” ini diperkirakan diikuti sekitar 1.500 mahasiswa. Namun, jumlah tersebut berpotensi bertambah karena BEM UI menyatakan aksi terbuka bagi masyarakat umum.
“Belakangan, ekonomi Indonesia runtuh. Namun, sayangnya pemerintah justru makin memperkeruh keadaan. Kebijakan fiskal bocor, independensi BI direnggut, dan komunikasi pemerintah kepada publik justru jauh dari kata layak,” tulis BEM UI melalui unggahan di akun Instagram resminya.
BEM UI juga mengajak masyarakat untuk ikut menyuarakan aspirasi.
“Mari turun ke jalan dan suarakan kegelisahan rakyat yang selama ini diabaikan,” demikian seruan mereka.
Potensi Kemacetan dan Jalur Alternatif
Berpusat di kawasan Bundaran HI, aksi unjuk rasa mahasiswa berpotensi menimbulkan kepadatan lalu lintas di sejumlah ruas jalan Jakarta Pusat.
TMC Polda Metro Jaya mengimbau masyarakat untuk menghindari kawasan Jalan Sudirman, MH Thamrin, Jalan Imam Bonjol, serta Jalan HM Saleh Ishak, dan menggunakan jalur alternatif.
Pengendara dari Bundaran HI menuju Jakarta Selatan disarankan melintasi Jalan Imam Bonjol, Jalan Diponegoro, dan Jalan Proklamasi. Sementara kendaraan menuju Tanah Abang dan Jakarta Barat dapat melalui Jalan Kebon Sirih, Jalan Fachrudin, dan Jalan KH Mas Mansyur.
Masyarakat juga diimbau menggunakan transportasi umum guna menghindari kepadatan kendaraan di sekitar lokasi aksi, serta terus memantau perkembangan situasi lalu lintas dan potensi aksi unjuk rasa di titik-titik lain seperti Patung Kuda dan Gedung DPR RI.
Supri