![]()
Timsus.Newsz.id, Jakarta (05/06) – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi meninjau langsung lokasi pengungsian korban kebakaran di Kelurahan Kebon Kosong, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat, Kamis (4/6), untuk memastikan perempuan dan anak terdampak memperoleh perlindungan, layanan dasar, serta dukungan pemulihan selama masa tanggap darurat. Kebakaran yang terjadi di kawasan Pasar Jiung, Jalan Kemayoran Gempol, menghanguskan ratusan bangunan semipermanen dan memaksa ribuan warga mengungsi.
Saat meninjau lokasi pengungsian, Menteri PPPA menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah yang dialami warga serta menegaskan pentingnya perlindungan kelompok rentan, khususnya perempuan dan anak.
“Atas nama Kemen PPPA, saya menyampaikan rasa prihatin yang mendalam kepada seluruh warga yang terdampak dari musibah kebakaran. Dalam situasi bencana seperti ini, perempuan dan anak merupakan kelompok yang sangat rentan sehingga negara harus hadir memastikan mereka mendapatkan perlindungan, rasa aman, serta layanan yang dibutuhkan,” ujar Menteri PPPA.
Menteri PPPA juga berdialog langsung dengan para ibu dan anak-anak di lokasi pengungsian untuk mengetahui kondisi mereka pascakebakaran. Dari hasil dialog tersebut diketahui kegiatan belajar mengajar tetap berjalan, namun banyak anak kehilangan perlengkapan sekolah akibat kebakaran
“Kami bersyukur proses belajar mengajar tetap berjalan. Namun kami juga mendengar langsung bahwa banyak anak kehilangan seragam sekolah, buku pelajaran, tas, dan alat tulis akibat kebakaran. Kebutuhan ini harus menjadi perhatian bersama agar hak anak untuk memperoleh pendidikan tetap terpenuhi dan tidak terhambat oleh situasi yang mereka alami saat ini,” kata Menteri PPPA
Selain aspek pendidikan, Menteri PPPA mengingatkan pentingnya perhatian terhadap kondisi psikososial anak selama berada di pengungsian.
“Anak-anak yang mengalami bencana tidak hanya kehilangan tempat tinggal dan barang-barang berharga, tetapi juga dapat mengalami tekanan psikologis. Oleh karena itu, dukungan keluarga, lingkungan, serta kegiatan yang ramah anak sangat penting untuk membantu mereka pulih dan kembali merasa aman,” ujar Menteri PPPA.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri PPPA juga mengingatkan pentingnya pendampingan terhadap penggunaan gawai oleh anak selama berada di pengungsian.
“Kami memahami bahwa dalam situasi pengungsian, gawai sering menjadi sarana hiburan bagi anak. Namun penggunaan gawai tetap perlu didampingi oleh orang tua agar tidak berlebihan dan anak tetap terlindungi dari berbagai risiko di ruang digital. Yang tidak kalah penting, anak-anak juga perlu tetap berinteraksi, bermain, dan mengikuti aktivitas positif bersama teman-temannya,” tegas Menteri PPPA.
Menteri PPPA mengapresiasi berbagai pihak yang telah bekerja sama dalam memberikan pelayanan kepada para korban, termasuk pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, dan lembaga kemanusiaan.
“Saya mengapresiasi kerja sama seluruh pihak yang telah bergerak cepat membantu masyarakat terdampak. Kehadiran layanan kesehatan, dapur umum, fasilitas sanitasi, serta ruang aman bagi perempuan dan anak merupakan bentuk nyata gotong royong yang perlu terus diperkuat selama masa pemulihan,” ujar Menteri PPPA.
Pada kesempatan yang sama, Camat Kemayoran, Dicky Suherlan menjelaskan bahwa pemerintah daerah bersama berbagai pemangku kepentingan terus berupaya memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi.
“Saat ini terdapat beberapa titik pengungsian bagi warga terdampak, dengan posko terbesar berada di belakang polsek kemayoran kebakaran. Di lokasi tersebut tersedia dapur umum, tenda pengungsian, fasilitas kamar mandi dan sanitasi, serta layanan kesehatan yang disediakan melalui kolaborasi BNPB, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Baznas, dan berbagai unsur terkait lainnya,” ujar Dicky Suherlan
Ia menambahkan bahwa pemerintah terus melakukan pendataan warga terdampak sekaligus memastikan kebutuhan dasar mereka terpenuhi selama berada di pengungsian.
“Fokus kami saat ini adalah memastikan seluruh warga terdampak mendapatkan pelayanan yang layak, mulai dari kebutuhan pangan, kesehatan, tempat tinggal sementara, hingga dukungan bagi anak-anak agar kegiatan belajar mereka tetap berjalan. Kami juga terus berkoordinasi dengan seluruh pihak untuk mendukung proses pemulihan pascakebakaran,” tambah Dicky.
Dicky juga menyampaikan bahwa aparat kepolisian turut membantu pelayanan bagi para pengungsi. Selain mendukung penyediaan dapur umum, jajaran kepolisian menempatkan personel, termasuk Polwan, untuk memberikan pendampingan kepada perempuan dan anak di lokasi pengungsian. Kehadiran aparat bersama berbagai unsur terkait diharapkan dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi masyarakat selama masa tanggap darurat dan pemulihan pascakebakaran.
Kemen PPPA akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan seluruh pihak terkait untuk memastikan kebutuhan perempuan dan anak terdampak kebakaran terpenuhi, baik pada masa tanggap darurat maupun selama proses pemulihan