Refleksi dan Introspeksi Diri di Tengah Kecongkakan Penguasa Bangsa

0
IMG-20260826-WA0018

Loading

Timsus.Newsz.id, Jakarta, 26 Agustus 2026, Bangsa ini membutuhkan refleksi dan introspeksi diri yang sungguh-sungguh. Jangan sampai kecongkakan, kesombongan, kerakusan, dan penyalahgunaan kekuasaan justru membuat seolah-olah bangsa sendiri menjadi penjajah bagi rakyatnya.

Penyerobotan dan penguasaan sumber daya alam (SDA), apabila dilakukan melalui kolaborasi kepentingan yang dilandasi kerakusan, pada akhirnya hanya akan menghancurkan lumbung kesejahteraan rakyat. Pengusaha hitam, spekulan tanah, mafia tanah, mafia kasus, serta pejabat yang korup dan mengkhianati amanah rakyat merupakan persoalan serius yang harus mendapatkan perhatian.

Begitu pula dengan pengelolaan APBN dan Dana Desa yang tidak tepat sasaran atau disalahgunakan untuk kepentingan tertentu. Praktik-praktik mafia pertambangan, baik nikel, timah, maupun batu bara, serta eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan harus dihentikan apabila terbukti merugikan negara dan masyarakat.

Papua dengan kekayaan alamnya juga harus mendapatkan keadilan. Kekayaan bumi Papua semestinya menjadi sumber kesejahteraan bagi masyarakatnya, bukan menjadi ruang eksploitasi tanpa batas. Demikian pula dengan persoalan lingkungan di berbagai wilayah Indonesia.

 

Pray for Kalimantan. Pray for Riau. Pray for Aceh. Pray for Papua dan NTT.

 

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menghancurkan flora, fauna, satwa, serta ekosistem merupakan tragedi lingkungan yang tidak boleh dianggap biasa. Bencana, kerusakan lingkungan, kondisi ekonomi yang semakin berat, dan berbagai persoalan sosial dapat semakin memperburuk kehidupan masyarakat, terutama rakyat miskin dan kelompok yang rentan.

 

Kita harus belajar dari perjalanan sejarah bangsa. Berbagai krisis besar yang pernah terjadi pada 1965, 1978, dan 1998 menunjukkan bahwa ketika persoalan ekonomi, politik, sosial, dan moral bertemu dalam satu titik, sebuah bangsa dapat mengalami guncangan yang sangat besar.

Indonesia dibangun selama puluhan tahun dengan nyawa, darah, air mata, dan pengorbanan para pejuang. Merah Putih bukan sekadar warna bendera. Merah adalah darah perjuangan, sedangkan putih adalah tulang yang menjadi simbol pengorbanan para pahlawan. Semuanya bersatu dalam bingkai NKRI, harga mati bagi rakyat Indonesia.

Ironisnya, di tengah perjuangan tersebut masih terdapat keserakahan para oligarki, spekulan, mafia, dan oknum penguasa yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi maupun kelompok daripada kepentingan rakyat.

 

Ketika Ego Mengalahkan Introspeksi

 

Sebagaimana disampaikan Dr. Bernard, salah satu persoalan mendasar yang harus kita renungkan adalah dekadensi moral dan melemahnya etika sebagai fondasi iman dan ketakwaan.

 

Ketika seseorang merasa paling benar, paling kuat, paling berkuasa, dan tidak membutuhkan kritik, maka ruang untuk memperbaiki diri semakin sempit. Ego yang semakin besar akan membuat seseorang semakin sulit melihat kesalahannya sendiri.

 

Kita sering kali lebih sibuk mencari kesalahan orang lain, mencari kambing hitam, atau memperbesar kekurangan orang lain. Padahal, mungkin ada balok besar di mata kita sendiri yang tidak pernah kita sadari, sementara selumbar di mata orang lain justru terus kita persoalkan.

 

Karena itu, kita perlu eling, mawas diri, evaluasi diri, dan introspeksi.

 

Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Tidak ada manusia yang sempurna. Kebenaran mutlak hanya milik Tuhan Yang Maha Esa.

 

Kerendahan hati bukan tanda kelemahan. Justru dengan merendahkan hati, kita memberikan ruang bagi kasih dan anugerah Allah untuk memulihkan kesalahan serta membimbing kita menjadi manusia yang lebih baik.

 

Kritik, Pers, dan Kebebasan Berpendapat

 

Koreksi, kritik, kontrol sosial masyarakat, independensi pers, kebebasan berpendapat, dan penyampaian aspirasi merupakan bagian penting dalam kehidupan demokrasi Pancasila.

 

Kritik dan saran yang konstruktif semestinya diterima sebagai sarana evaluasi, bukan dianggap sebagai ancaman.

 

Tidak boleh ada arogansi, intimidasi, kriminalisasi, maupun kekerasan terhadap masyarakat dan insan pers hanya karena adanya kritik atau pemberitaan yang tidak sesuai dengan kepentingan pihak tertentu.

 

Jangan pernah meremehkan marwah pers.

 

Pers memiliki fungsi penting dalam mengawasi jalannya kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena itu, kebebasan pers harus dihormati, sekaligus dijalankan dengan profesionalisme, tanggung jawab, etika jurnalistik, serta berlandaskan hukum.

 

Prinsip “Equality Before the Law” — setiap orang memiliki kedudukan yang sama di hadapan hukum — harus menjadi pegangan bersama.

 

Stop kriminalisasi, kekerasan, intimidasi, rekayasa, serta kekerasan fisik maupun verbal terhadap insan pers.

 

Dalam menjalankan tugas jurnalistik, wartawan dan insan pers memiliki fungsi serta tanggung jawab yang diatur antara lain dalam:

 

UU Pers No. 40 Tahun 1999;

UU Keterbukaan Informasi Publik No. 14 Tahun 2008;

UU No. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik;

UUD 1945, khususnya Pasal 33.

 

Kritik bukanlah musuh negara. Kontrol sosial bukanlah bentuk pengkhianatan. Pers bukanlah lawan pemerintah.

 

Justru kritik yang sehat dapat menjadi cermin bagi kekuasaan agar tidak terjebak dalam kesombongan dan penyalahgunaan kewenangan.

 

Mematikan Ego, Menumbuhkan Kasih

 

Dr. Bernard juga mengingatkan bahwa kita jangan membiarkan ego menjauhkan diri dari anugerah Tuhan.

 

Mari kita matikan ego, kesombongan, dan keangkuhan dalam diri. Besarkan kasih Allah dalam kehidupan kita agar lahir kedamaian, keteduhan, dan kesejahteraan.

Mari terus berikhtiar untuk maju. Tak gentar untuk belajar, mau diajar, berani menerima kritik, dan bersedia berbenah diri.

Bangsa yang besar bukan bangsa yang tidak pernah melakukan kesalahan, melainkan bangsa yang mampu mengakui kesalahan, memperbaikinya, dan belajar agar tidak mengulanginya.

 

Pray for Aceh.

Pray for Riau.

Pray for Kalimantan dan korban Karhutla.

Pray for Papua.

Pray for NTT.

 

Semoga seluruh masyarakat yang terdampak bencana diberikan keselamatan, kekuatan, dan pertolongan.

 

Selamat dan Sukses Indonesiaku

 

Semoga program Astacita dapat menjadi bagian dari ikhtiar mewujudkan Indonesia yang berdaulat, maju, adil, makmur, dan sejahtera.

 

Mari bersama-sama menjaga eksistensi dan integritas bangsa menuju cita-cita Indonesia Emas 2045, menjadi bangsa yang disegani di Asia, dengan rakyat yang berdaulat dan kehidupan yang berlandaskan Pancasila, UUD 1945, dan NKRI.

 

Indonesia bukan milik segelintir orang.

 

Indonesia adalah milik seluruh rakyat Indonesia.

 

Merah Putih harus tetap berkibar.

 

Merdeka!

NKRI Harga Mati!

 

Tim Investigasi GAKORPAN

LBH Pers Prima Presisi Polri

LBH Rumah Besar Prabowo 08

Merah Putih Pers 08

 

Ficky Morenza, ST., SH. — Tangerang Selatan

 

Tim Hukum LBH GAAS

Ikhsan B. Pers

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *